← Kembali ke blog

Tidak dapat dipungkiri bahwa pelatihan karyawan sangatlah penting. Sudah terdapat banyak artikel yang menjelaskan bahwa training dapat berpengaruh positif terhadap perusahaan. Namun rupanya, masih terdapat sebagian perusahaan yang belum menyediakan pelatihan formal bagi karyawannya karena banyaknya tantangan yang dihadapi.

Ini dia beberapa tantangan yang dihadapi saat melakukan pelatihan bagi karyawan.

  1. Pelatihan Karyawan yang Kurang Aplikatif dan Kurang Relevan
    Dalam menyelesaikan sebuah pekerjaan, karyawan dihadapkan dengan kasus-kasus tertentu yang butuh kreatifitas dalam menyelesaikannya. Untuk itu, pelatihan karyawan sebaiknya tidak hanya fokus pada teori, namun juga fokus pada studi kasus yang sesuai dengan pekerjaan karyawan. Namun pelatihan yang seharusnya bisa disesuaikan dengan pekerjaan masing-masing karyawan justru tidak disediakan. Yang tersedia hanya pelatihan untuk semua karyawan sekaligus sehingga kurang relevan untuk diaplikasikan. Bahkan menurut Workplace Learning Report, hanya 12% karyawan yang mengikuti pelatihan bisa mengaplikasikan hal yang dipelajari dalam pekerjaan sehari-hari.
  2. Sulit dan Lamanya Membuat Konten Pelatihan Karyawan
    Ketika divisi learning sudah mau bersiap untuk menyediakan pelatihan yang sesuai dengan masing-masing karyawan, divisi learning akan dihadapkan dengan sulit dan lamanya membuat materi pelatihan yang jumlahnya banyak. Cara yang lebih efektif dalam membuat konten pelatihan ini adalah dengan membuat materi bitesize menggunakan microlearning. Microlearning adalah strategi konten belajar yang sedikit namun terfokus agar mudah ditangkap oleh daya ingat. Untuk membuat microlearning, waktunya lebih sedikit namun lebih menarik bagi karyawan yang akan mengikuti pelatihan.
  3. Kurang Motivasi dan Partisipasi
    Sudah sejak lama pelatihan diasosiasikan sebagai hal yang membosankan. Bagi sebagian karyawan, pelatihan menghabiskan banyak waktu untuk duduk dan mendengarkan banyak sekali slide presentasi secara pasif. Karyawan hanya mendengarkan beberapa hal di awal pelatihan dan tidak memahami apa yang dibicarakan sampai akhir. Dalam waktu 24 jam setelah pelatihan tradisional berakhir, kebanyakan karyawan juga akan lupa apa yang telah dipelajari. Dengan adanya pelatihan menggunakan microlearning, pelatihan jadi hanya butuh sedikit waktu untuk diselesaikan. Waktu pelatihanpun dapat disesuaikan dengan kapanpun karyawan mau. Karyawan jadi tidak merasa dipaksa untuk mengorbankan waktu kerjanya. Dengan microlearning, materi juga dengan mudah ditangkap. Dan dengan adanya materi yang spesifik dan jumlahnya sedikit, karyawan tidak akan mudah lupa apa yang telah dipelajari.
  4. Kurang Adanya Support terhadap Learning Culture
    Learning culture di sini memiliki arti karyawan memiliki mindset untuk mau selalu belajar kapanpun, bukan hanya karena adanya keharusan untuk menyelesaikan sebuah pelatihan. Mindset ini sangat baik untuk terus mengembangkan skill karyawan. Namun terkadang learning culture ini masih belum dapat di-support karena masih belum ada pelatihan karyawan yang dapat diakses kapanpun dan dimanapun.

Kesimpulannya, penting untuk membuat pelatihan yang relevan dan dapat diaplikasikan dalam pekerjaan masing-masing karyawan, dengan materi yang memanfaatkan microlearning, yang materinya dapat diakses dari manapun dan kapanpun. Untuk itu, Sunedu berupaya maksimal dalam membantu perusahaan Anda dalam membuat pelatihan yang sesuai bagi perusahaan Anda. Jangan lupa kunjungi website Sunedu.id untuk melihat demo yang kami sediakan sekarang juga.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
HERNIATI RAHAYU
HERNIATI RAHAYU
4 years ago

Alhamdulillah tambah pengetahuan terimakasih.